Halaman

Arsip Blog

Mau Nyontek Harus Belajar Dulu

Musim ujian. Waaah, benar-benar mengenang masa-masa perjuangan… Belajar kebut semalam, cari contekan, taruh catatan di bawah bantal, dan lain sebagainya…

*****

Setiap orang punya anugerah dari Tuhan. Ada yang bisa lari kencang, bersepeda sangat cepat, melukis dengan indah, menyanyi menggetarkan jiwa, dan lain sebagainya.

Saya? Ada satu yang saya harus beri ucapan terima kasih khusus: Kemampuan melewati ujian dengan baik. Bukan masalah rajin belajar, bukan hanya masalah menyontek. Entah mengapa, dari kecil memang ujian tidak pernah terlalu membuat saya pusing.

Tentu saja, ujian zaman sekarang tidak sepenuhnya seperti dulu. Trik-trik masa lalu belum tentu bisa menolong menghadapi ujian zaman sekarang.

Tapi, saya yakin, semua orang pernah punya trik menghadapi ujian. Khususnya ketika ’’tidak sempat’’ (atau tidak mau?) belajar. Tidak peduli di negara mana pun Anda sekolah/kuliah, saya yakin kurang lebih sama.

Oke, mungkin ada satu atau dua orang yang saat sekolah benar-benar rajin. Tidak pernah sekali pun menyontek, selalu rajin belajar. Saya juga punya teman seperti itu dulu.

Sekarang jadi apa dia? Entah, hahahaha

Terus terang, saya tidak termasuk yang itu. Sekolah saya ’’sukses’’ karena 60 persen belajar, 20 persen menyontek, dan 20 persen keberuntungan.

Persentase terbesar, tentu harus belajar. Namanya saja sekolah. Waktu kuliah, saya selalu berusaha tidak bolos. Selalu berusaha bawa buku catatan. Selalu berusaha membaca semua buku teks.

Walau kadang bolos, kadang minta kertas dan pinjem pulpen dari teman, dan kadang lupa bawa buku. Dan kadang ketika seharusnya mencatat, saya malah menulis cerita pendek atau puisi. Wkwkwkwk

Maklum, masa kuliah saya rada nge-punk. Sering celana pendek atau jins bolong-bolong, rambut diwarna-warni, dan telinga bertindik.

Untung saya punya orang tua yang berani ’’melepas’’ dan jarang melarang, walau mungkin sering deg-degan dan mengelus dada.

Untung pula, saya lumayan pintar (atau hoki?) memilih dosen mata pelajaran yang wajib diikuti.

Ada dosen yang selalu mengizinkan kami membuka buku (open book) saat ujian. Alasannya sangat-sangat logis: Dalam kehidupan nyata, kita boleh membuka buku!

Toh, untuk bisa mencari jawaban, kita harus pernah membaca bukunya, dan tahu persis di bab mana harus mencari jawabannya.

Kalau tidak pernah baca bukunya yang tebal-tebal, waktu ujian tidak akan cukup untuk menemukan jawaban dari semua soal yang disajikan.

Kadang, saya dan teman-teman juga beruntung. Menemukan soal atau jawaban dari ujian yang segera dihadapi. Mungkin urutan soalnya tidak sama, bahkan diacak. Tapi, itu modal yang baik.

Meski demikian, soal apa pun yang kami dapat, tetap harus dibaca dan dipelajari jawabannya. Just in case urutannya diacak lebih ruwet dari perkiraan.

Dan kalau sudah begitu, kami punya kesepakatan serius: Jangan sampai dapat nilai sempurna (100). Cukup maksimal 91 atau 93. Atau bahkan 87 (setara B+) saja cukup. Nanti nilai keseluruhan bisa didongkrak menjadi A dengan mengerjakan extra-credit (tugas tambahan).

Tujuannya bukan hanya supaya tidak mencolok. Tapi juga memberi kesempatan kepada adik-adik kelas, atau teman-teman yang mengambil kelas selanjutnya, untuk mendapatkan peluang yang sama.

Asas tidak serakah. Plus asas keadilan, wkwkwkwkwk

Pernah, ada anak dari Hongkong, terus mendapatkan nilai 100. Alhasil, sang dosen mengubah total ujian-ujian selanjutnya. Membuat kami semua supersebal karena harus benar-benar belajar beneran…

Pernah juga ada teman yang tidak mau belajar beneran, minta saya menuliskan jawaban multiple choice (A, B, C, atau D) di selembar kertas.

Ternyata, dia malah dapat nilai 57. Usut punya usut, urutan jawaban saya tulis ke kanan, dalam sepuluh baris ke bawah. Saat ujian, dia membaca urutannya ke bawah…

Tuh kan, kalau tidak belajar, menyontek justru bisa menjebak!

*****

Hampir semua mungkin pernah desperate.

Misalnya, saat menghadapi ujian, kepala benar-benar blank tidak bisa menemukan jawaban.

Kalau sudah begitu, jangan terlalu ambil pusing. Mau kita pelototi itu soal ujian sampai tujuh hari tujuh malam, jawaban tidak akan ketemu kalau kita memang tidak bisa. Apalagi kalau cuman punya waktu satu jam. Jadi, ya selesaikan saja apa yang bisa diselesaikan, setelah itu improvisasi.

Kalau soal esai, ya dikarang saja jawabannya selogis kita bisa. Mungkin tidak bisa dapat nilai penuh, tapi yang penting ada poinnya. Ini strategi minimizing the damage.

Kalau multiple choice, saya lihat saja jawaban di sekeliling soal yang buntu itu. Kalau terlalu banyak C, maka tidak mungkin C. Kalau sampai soal itu masih jarang B, mungkin jawabannya B. Ini strategi hukum probabilitas, hahahaha

Kadang-kadang, kita mungkin merasa tidak percaya diri menghadapi ujian yang jatuh pada keesokan hari. Mau baca catatan dan buku teks sepuluh kali, mungkin tetap tidak percaya diri.

Menghadapi ini, ada yang pernah menganjurkan belajar sistem osmosis. Taruh buku teks atau catatan di bawah bantal saat tidur, kemudian biarkan jawaban ’’meresap’’ ke kepala kita saat tidur.

Efektif atau tidak? Entahlah. Tapi, saya lakukan saja. Toh, tidak ada ruginya. Kalau berhasil, ya bagus. Kalau tidak, ya tidak masalah, kan?

*****

Kadang kita sudah belajar maksimal. Kadang kita sudah berniat mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Dan kadang, kita benar-benar diberi mukjizat oleh Tuhan.

Pernah suatu waktu, saya mengerjakan tugas akhir kelas Business English sampai pagi pukul 04.00. Bukan karena rajin kok. Ini karena salah saya sendiri mencoba mengerjakan tugas 30 halaman dengan sistem kebut semalam.

Tidak lama setelah tugas itu selesai dikerjakan, saya tertidur. Baru bangun pukul 11, padahal tugas sudah harus dikumpulkan pukul 9 pagi. Dan itu adalah hari terakhir semester!

Masih pakai kaus putih polos dan celana boxer, saya lari keluar apartemen. Ada teman sesama anak Indonesia saya minta ngebut mengantarkan saya ke kampus.

Sesampai di kampus, suasana begitu sepi. Pintu gedung tempat kelas saya berada dikunci. Gedung administrasi juga sepi.

Saya coba telepon nomor kampus, ternyata ada pemberitahuan: Karena hujan badai begitu keras tadi pagi, maka kampus hari itu ditutup dengan alasan keselamatan. Segala tugas dan kewajiban bisa disusulkan…

Terima kasih Tuhan….

*****

Saya yakin Anda juga punya cerita seru menghadapi ujian. Bahkan mungkin jauh lebih seru daripada cerita-cerita saya di atas.

Saya mungkin bukan pelajar paling jujur, tapi saya juga yakin banyak yang lebih parah dari saya, hehehe… Dan pelajar yang lebih jujur juga belum tentu lebih baik dari saya, hehehe

Pembagian 60 persen belajar, 20 persen nyontek, dan 20 persen keberuntungan, menurut saya, termasuk paling balance. Dan paling aplikatif untuk menghadapi kehidupan nyata, yang jauh lebih penting dan menantang dari dunia sekolah/perkuliahan.

Coba pikirkan:

Seratus persen belajar belum tentu sukses.

Seratus persen menyontek tentu bukan hal yang baik.

Dan siapa orang hidup 100 persen mengandalkan keberuntungan? (*)

CATATAN TAMBAHAN PENULIS: Tulisan ini tidak bermaksud mengajari orang untuk menyontek. Kalau Anda menganggap demikian, tolong baca lagi dari atas. Kalau belum paham juga, tolong baca lagi dari atas. Happy Wednesday!

Dunia Lebih Lebar dari Layar Hape

15 April 2015

Anak kita tampil di panggung. Sayangnya, yang duduk tidak bisa menonton. Gara-gara ada begitu banyak orang tua maju ke depan berebut merekam pakai handphone dan bahkan iPad…

***

Istri saya kadang harus rutin mengingatkan saya –dan kemudian memaksa saya– untuk hadir melihat anak-anak kami tampil di panggung untuk acara sekolah.

Sayangnya, dan ini saya yakin cerita banyak orang, kami pada akhirnya tidak bisa melihat jelas aksi anak kami di atas pentas.

Ada terlalu banyak ibu dan bapak berebut di depan panggung, berusaha merekam seluruh gerak-gerik anak yang tampil. Banyak yang pakai handphone (hape), tidak sedikit yang blak-blakan mengeblok pandangan orang di belakang karena merekam pakai tablet selebar majalah.

Kalau motret, mungkin masih oke lah, karena bisa cuma sebentar maju, lalu mundur lagi. Lha ini merekam video.

Di satu sisi, dongkol juga ya. Di sisi lain, cekikikan juga. Lalu, saya juga ingat kalau ’’merekam’’ ini sudah jadi kultur kita sekarang.

Datang ke konser? Tidak lagi berdiri atau duduk tenang, atau berjoget, menikmati lagu yang ditampilkan sang bintang di panggung. Semua pada sibuk mengacungkan tangan, merekam aksi di panggung.

Tangannya betah-betah.

Kadang awal sampai akhir terus teracung.

Saat pertandingan basket pun, saya lihat banyak orang yang terus merekam pertandingan memakai hape dan tablet.

Saya pun terus berpikir. Something is wrong… Ada yang nggak bener…

***

Pada Happy Wednesday edisi sebelumnya, saya pernah menyebut nama George Carlin sebagai stand-up comedian favorit saya.

Saya teringat pada salah satu bagian dari penampilan sang komedian. Saya akan mengutipnya di bawah ini, dengan mengubah beberapa bagian supaya lebih relevan dengan kondisi saat ini. Misalnya, Carlin dulu menyebut ’’camcorder’’ alias handycam, dan itu saya ganti dengan handphone. Saya tentu juga mengganti kata-kata jorok yang dia pakai…

Berikut ucap Carlin:

’’(Alat perekam video) ini teknologi yang berlebihan. Ke mana-mana kita pergi, selalu ada orang brengsek membawa handphone, dan dia akan merekam segalanya!

Sudah tidak adakah orang di negeri ini yang memilih untuk duduk diam dan memperhatikan, meresapi apa yang mereka lihat, lalu mengenangnya di dalam kepala? Apakah itu sesuatu yang aneh?

Apakah pengalaman harus selalu diabadikan, dibawa pulang, lalu disimpan dalam alat? Dan apakah orang akan menonton kembali rekaman-rekaman itu? Apakah orang-orang sudah begitu tidak ada kerjaan, sehingga mereka lebih banyak duduk di rumah menonton kembali hal-hal yang sudah mereka lihat atau lakukan?’’

***

Itu dua kata kunci dari sindiran Carlin tersebut.

Bayangkan saja. Kita pergi menonton anak kita beraksi di atas panggung. Seburuk apa pun akting, gaya, dan suara mereka di atas panggung, mereka tetap anak kita.

Rekaman video paling profesional tidak akan mampu membuatnya lebih baik, menjadikan anak-anak kita seperti superstar atau bintang Hollywood.

Lagi pula, biasanya yang bikin acara sudah menyiapkan kru video untuk merekam kegiatan di panggung. Dan kamera mereka pasti jauh lebih bagus daripada handphone atau tablet perekam kita.

Dan tentu saja, operatornya lebih profesional.

Bukankah jauh lebih baik kita semua duduk (atau berdiri) tenang, memperhatikan dan menonton dengan sopan, meresapi segala yang terjadi, dan mengingatnya sebagai memori di dalam kepala?

Kalau kita paksakan diri merekam pakai hape, ada kemungkinan kita akan miss dua kali dari penampilan tersebut.

Pertama, kita tidak memperhatikan dan meresapi ketika anak-anak kita tampil. Kedua, ternyata rekaman yang kita buat shaky (bergetar), terganggu orang lewat atau perekam lain, atau bahkan terputus atau tidak terekam!

Lagi pula, dunia ini layak dikenang lebih dalam dari sekadar penampilan di layar mini, atau bahkan penampilan yang diproyeksikan ke layar lebar atau dinding rumah.

Dan walau saya bukan calon ayah teladan, makin lama saya juga makin sadar kalau momen-momen itu kelak akan kita rindukan. Ada teman saya yang pernah mengingatkan: ’’Nikmati mumpung anak-anak kamu masih lucu-lucu. Nanti tiba-tiba mereka sudah besar-besar dan semua ini terlewatkan…’’

***

Hobi sepedaan ke tempat aneh-aneh dan jauh-jauh, ada banyak tempat yang saya lihat, yang tidak mungkin dinikmati kalau kita berjalan (terlalu jauh) atau naik mobil (terlalu terisolasi dari udara luar).

Soal merekam ini, saya hampir membuat kesalahan yang sama dengan perekam-perekam acara anak di pentas.

Beberapa waktu lalu, saya membeli sunglass (kacamata) khusus yang dilengkapi kamera tepat di tengahnya. Jadi, sambil bersepeda bisa merekam segala yang kita lihat. Mengikuti arah mata kita, bukan statis diam seperti merekam pakai kamera GoPro.

Keren? Iya. Tapi, pada akhirnya, tetap tidak terlalu berguna.

Ketika memutar lagi rekamannya di laptop, memang gambarnya jelas karena kameranya memang high-definition.

Namun, ada banyak di rekaman itu yang tetap tidak menggambarkan betapa luar biasa pengalaman yang telah saya rasakan saat menjalaninya.

Rekaman itu tidak bisa menyampaikan betapa segarnya udara di pegunungan yang saya daki. Rekaman itu tidak bisa menyampaikan hangatnya cahaya matahari menerpa kulit. Dan rekaman itu tidak bisa menyampaikan bau-bauan –baik maupun buruk– yang ada dalam perjalanan.

Dan kadang, karena sedang berusaha mati-matian menanjak, rekaman itu hanya bisa menyampaikan video aspal bergoyang ke kanan dan ke kiri (karena saya selalu menunduk) serta desah napas keras saya sendiri…

Sekarang, kacamata keren itu sangat jarang saya pakai. Saya memilih pakai kacamata biasa, menikmati dan meresapi segala yang saya lihat selama perjalanan… (*)

Statistik Blog

  • 190,308 Jejak Pengunjung

Twitter Dahlan Iskan

  • "@anastacia_gold: bapak penasaran, mention radio itu Pak. »Tentu hanya satu radio bandung yg pd jam itu acaranya tangga lagu. Radio apa ya? 7 months ago
  • "@dezokezo: kalau boleh tahu pak mau kemana?liburan? »Td pagi sy tinjau hutan kaliandra merah di bandung selatan. Mau balik jkt. 7 months ago
  • "@alwihadi: suara radio tak tertangkap, kok bisa tau penyanyinya wanita? Hehehe...sakti" »suara hilang saat lg hampir selesai. Maafkan. 7 months ago
  • "@anastacia_gold: lagu Ind atau barat Pak?" »Lg Ind. Baru dengar sekali ini. Tapi langsung yangkut. Sy kagum lg Ind sdh banyak sebagus itu. 7 months ago
  • Penyanyinya wanita. Suara radio tak tertangkap lg di km 106 7 months ago
  • 12.30 radio bandung siaran tangga lagu. Terkesan pringkat 4 (ming ll 5). Entah radio apa, tiba2 suara hilang (sy di hutan). Lagu apa, siapa? 7 months ago
  • Bung @Anton Kurnia9, kubaca tulisan anda "rubah gurun" tim Aljazair di JP hari ini: bagus sekali. Anda ini sastrawan penggila bola jg ya! 9 months ago
  • (7) Sy longok depan, penumpang dilayani tanpa ada yg ngomel2 atau marah2. Semua terima keadaan bahkan banyak yg bergurau dg petugas. 10 months ago
  • (6) Siang td di Washington DC, kerjasama dg BUMN sdh ditandatangani. Sambil antre gini mencoba twitt lg ternyata pikiran bisa lbh santai (.) 10 months ago
  • (5) Bsk pagi hrs tinjau penemuan baru sistem fusi plasma utk produksi neutron tanpa reaktor nuklir. Dulu diramalkan baru bs terjadi 2050. >6 10 months ago
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 108 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: