Halaman

Arsip Blog

Setelah Umur 35, Badan Kamu Punya Dua Pilihan…

oleh : Azrul Ananda, Dirut Jawa Pos Koran
25 Februari 2015

Bangun pagi timbang badan. Habis olahraga dan mandi timbang badan. Malam sebelum tidur timbang badan lagi…

***

Tidak pernah saya bayangkan, di usia menuju kepala empat ini, justru menjadi momen-momen paling fokus terhadap timbangan badan.

Bangun pagi pukul 04.00, yang pertama dilakukan adalah menimbang badan. Lalu, bersiap-siap untuk latihan. Pakai bib short, jersey, pasang heart rate monitor, semua sudah disiapkan sejak sebelum tidur.

Lalu, menuju ruang sepeda, memakai helm, kaus kaki, sepatu, memilih kacamata yang sesuai, sarung tangan, dan membawa keluar sepeda balap yang juga sudah disiapkan malam sebelumnya.

Setelah itu, bersama teman-teman berlatih sejauh 60–100 km. Kadang datar santai, kadang menanjak berat, hingga pukul 07.00 atau 09.00.

Pulang, mandi, lalu menimbang badan lagi. Baru kemudian melanjutkan aktivitas normal. Malam sebelum tidur biasanya juga menimbang lagi berat badan.

Tinggi badan saya 176 cm. Berat saya saat menulis kolom ini 70–71 kg (bergantung sebelum atau sesudah latihan).

Ideal? Beauty is in the eye of the beholder. Ada yang bilang sudah terlalu kurus. Ada yang bilang ideal. Tapi, terus terang, saya masih ’’butuh’’ turun lagi 2–3 kilogram.

Itu berarti turun total 16 kg dari rekor terberat saya (84 kg). Dan itu berarti lebih ringan daripada waktu saya lulus kuliah di pengujung 1999 lalu (waktu itu 69 kg).

Dan saya tidak sendirian. Teman-teman saya yang serius bersepeda sekarang juga rajin melakukan hal yang sama. Rata-rata juga seusia, atau selisih tidak sampai lima tahun ke atas atau lima tahun ke bawah.

Kalau makan, sangat jaga diri. Tidak berani kebanyakan. Tidak berani keseringan.

Kadang saya suka tertawa-tertawa sendiri. Kita ini rata-rata sudah lebih dari dewasa. Sudah berkeluarga. Sudah punya anak beberapa biji. Tapi, kok gaya hidupnya ngalah-ngalahi supermodel.

Tujuannya apa juga nggak jelas.

Sebenarnya punya keinginan sama: Performance bersepeda yang lebih baik. Menanjak lebih ringan, melaju lebih kencang. Yang itu lantas punya dampak ke keseharian yang sebanding pula: Hidup lebih sehat, tidur lebih nyenyak, jauh dari ancaman-ancaman sakit.

Tapi, masak performance bersepeda jadi tujuan utama? Wong pembalap juga bukan. Kalaupun suka balapan, event balapan buat non-pembalap seperti kita-kita juga sangat jarang.

Mau balapan liar juga nggak mau mengambil risiko. Wong sudah punya hidup yang baik dan berkeluarga, bukan lagi ABG.

Lalu, buat apa? Setiap hari saya dan teman-teman bertanya. Dan meski jawabannya tidak jelas, kami tetap melakoninya dan toh merasakan manfaatnya…

 

***

Akhir tahun lalu, ketika membawa tim basket Honda DBL Indonesia All-Star (kumpulan pemain SMA terbaik) ke Amerika, kami bertemu lagi dengan seorang mantan atlet binaraga yang kini sudah berusia 50-an tahun.

Tahun sebelumnya kami sudah bertemu, dan dia melihat saya lalu bertanya: ’’Azrul, kamu exercise (olahraga, Red)? Sekarang kelihatan lebih kurus.’’

Ketika saya jawab iya, dia melanjutkan: ’’Bagus. Teruskan. Usia kamu berapa?’’

Saya menjawab, ’’37.’’

Dia melanjutkan lagi: ’’Bagus. Teruskan. Jangan berhenti. Sebab, setelah usia 35 tahun, badan kamu punya dua pilihan. Kalau kamu rajin beraktivitas, maka sel-sel badan kamu akan terus belajar untuk meregenerasi diri. Sebaliknya, kalau kamu jadi couch potato (malas-malasan, Red), maka badan kamu akan memulai proses untuk mati…’’

Walau usianya sudah 50-an, teman kami itu masih sangat aktif berlatih. Di sela-sela pekerjaan, dia selalu menyempatkan diri untuk masuk ke gym atau joging. Dan kalau bertemu, kita pasti tidak menyangka bahwa usianya sudah 50-an.

Yang jelas, saya dan teman-teman seusia sudah merasakan manfaat keaktifan (atau ke-overactive-an) kami selama ini. Badan terasa lebih segar, tidur lebih nyenyak, melangkah lebih ringan, dan alat ukur performance lain rasanya kok ya juga lebih baik (hehehe…).

Orang lain boleh bilang kami terlalu kurus. Tapi, kalau melihat sekeliling, kayaknya kok mending begini ya…

Apalagi kalau lagi jalan-jalan ke mal. Melihat orang lain yang kira-kira seumuran, dan badannya masuk kategori kegemukan. Jalannya lebih pelan, kadang napas terlihat tersengal-sengal saat berjalan. Otomatis, kami pun mengucapkan puji syukur… (*)

Kebiasaan-Kebiasaan Kecil Penanda Peradaban

oleh : Azrul Ananda, Dirut Jawa Pos Koran
18 Februari 2015

Pembaca mungkin pernah merasakan ini: Sebal melihat kebiasaan-kebiasaan kecil yang terjadi di sekeliling kita, tapi bingung harus mulai mengingatkan dari mana. Ini beberapa yang ada di daftar saya…

***

Ketika Anda ke toilet umum, seperti di mal, Anda tentu tidak memperhatikan orang lain yang sedang melakukan ’’kebutuhan’’ rutinnya. Fokus ke diri sendiri, segera selesai, cuci tangan, lalu keluar. The business is done.

Masalahnya, ketika urusan sudah beres, saya sering melihat ada satu step (tahapan) yang terlewatkan: Cuci tangan.

Dan yang bikin saya geleng-geleng kepala, yang melewatkan proses itu tidak sedikit orang berdandan mentereng, pakai baju mahal. Itu jelas orang mampu.

Bukankah sejak kecil kita diajari untuk selalu mencuci tangan? Anak-anak saya yang masih kecil saja sudah diajari begitu. Mungkin sekolah-sekolah harus punya kurikulum baru: PCTUBI. Pendidikan Cuci Tangan untuk Bapak-Ibu.

Kalau ada orang yang tidak cuci tangan itu keluar toilet sebelum saya, maka saya yang jadi bingung ketika harus membuka pintu untuk keluar dari toilet. Apalagi kalau tombol pintunya model putar atau tuasnya harus kita tarik…

Apresiasi terbesar pun saya berikan kepada penemu tisu basah…

***

Kebetulan, saya bekerja di kantor yang memakai elevator alias lift. Atau sering meeting di tempat-tempat yang memakai lift. Dan tentu sering jalan-jalan ke mal/pusat perbelanjaan yang pakai lift (siapa yang tidak?).

Entah kenapa, setiap kali pintu lift terbuka, selalu orang berebut masuk ke dalam. Tanpa melihat, bahwa DI DALAMNYA MASIH ADA BANYAK ORANG MAU KELUAR.

Tidak peduli apakah itu di mal, atau di gedung perkantoran yang paling eksekutif dan eksklusif, ’’problem’’ ini selalu bikin saya geleng-geleng kepala.

Orang-orang ini mikir gak ya? Kalau dia maksa masuk, itu sama sekali tidak logis? Kalau gelas penuh dengan air, kan tidak mungkin diisi lebih banyak air?

Nah, untuk yang satu ini, memang tidak ada pendidikan atau pelatihannya di sekolah.

Dan lagi-lagi, orang-orang rapi berdasi –yang saya asumsikan berpendidikan tinggi– termasuk yang suka memaksakan diri masuk ke lift sebelum penumpang lain keluar tersebut!

Coba deh the next time kita mau naik lift. Lihat orang-orang lain yang mau naik lift bareng kita. Kalau pintu lift terbuka dan mereka langsung memaksakan diri masuk, silakan geleng-geleng kepala…

Dan bagi penumpang lift yang sedang penuh dan akan keluar bersama, ayo kompakan menggoda para calon pengguna selanjutnya. Pegang tangan rame-rame, dan kompak mendesak keluar begitu pintu lift terbuka. Pasti lucu sekali melihat para ’’pemaksa masuk lift’’ itu terpental…

Salut bagi pengelola MRT di Singapura, yang membantu ’’mengajarkan’’ etiket keluar masuk yang baik. Mereka yang ingin masuk MRT diberi tempat bertanda panah di sisi kanan dan kiri pintu kereta. Sedangkan jalur di depan pintu diperuntukkan bagi penumpang yang keluar…

***

Yang satu ini lebih spesifik segmennya. Yaitu, mereka yang naik pesawat. Benar-benar mengherankan, dan saya bisa membayangkan ini benar-benar membuat lelah para awak pesawat.

Ketika pesawat mendarat, dan baru berhenti parkir, banyak penumpang langsung berlomba berdiri. Kadang tidak peduli mendorong penumpang lain, tidak peduli menginjak kaki penumpang lain, tidak peduli melangkahi penumpang lain.

Lalu, berebut membuka lemari kabin, cepat-cepat mengeluarkan tasnya. Kadang dia menyikut penumpang lain, kadang tasnya menghantam kepala orang lain (saya pernah jadi korban).

Terus terang, setiap kali ini terjadi, saya selalu duduk tenang di kursi saya. Tidak ikutan lomba berdiri dan mengeluarkan tas, tidak ikutan adu sprint keluar dari pesawat.

Kalau saya duduk di jendela, memang saya tidak bisa bergerak lebih cepat. Dan kalau saya duduk di sisi lorong, saya biasanya meminta yang duduk di sebelah saya untuk ikutan sabar berdiri nanti saja.

Buat saya, ini sangat mengherankan. Emang sebegitu bencinyakah naik pesawat, sehingga ingin cepat-cepat keluar ketika sudah sampai tujuan?

Apakah takut pesawatnya segera berjalan lagi seperti bus di halte pemberhentian?

Apakah takut siapa pun yang menunggu di luar akan pergi meninggalkan?

Konyolnya lagi kalau punya bagasi. Ngapain keluar cepat-cepat kalau ternyata di bawah nanti harus bengong lama menunggu bagasi???

Makanya, kalau naik pesawat, santai aja bro. Berdiri keluar satu-satu, tidak ada hadiah untuk menang sprint keluar lebih dulu.

Sekali lagi, bukan hanya penumpang low cost carrier yang berperilaku seperti itu. Pesawat-pesawat full service pun, yang penumpangnya berdandan rapi/berdasi/berbatik, juga sama saja…

Salut untuk para pramugari/awak kapal, yang setiap kali pesawat berhenti seperti bertarung melawan puluhan/ratusan penumpang mengingatkan mereka untuk tenang dan tetap duduk.

Salut ekstra untuk para pramugari/awak kapal penerbangan low cost carrier atau jalur-jalur perintis (khususnya Lion Air). Kalian semua merupakan orang paling hebat, berkutat mengajarkan ’’adat istiadat’’ dan ’’peradaban’’ penerbangan yang baik kepada masyarakat yang belum familier dengan terbang naik pesawat.

Saya jadi semakin apresiatif terhadap perjuangan ibu saya dulu, yang pernah menjadi guru SD di pedalaman Kalimantan. (*)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 91 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: